MENAPAK JEJAK DR. SOETOMO: REFLEKSI PATRIOTISME DAN NASIONALISME OLEH MAHASISWA UNTAG SURABAYA
Di tengah kesibukan Kota Surabaya, terdapat sebuah oase sejarah yang menyimpan jejak perjuangan bangsa: Gedung Nasional Indonesia (GNI) dan Museum Dr. Soetomo di Jalan Bubutan No. 85-87. Bagi kami, Kelompok 1 Mahasiswa Universitas 17 Agustus 1945 (UNTAG) Surabaya, kunjungan napak tilas ke museum ini dalam rangka Mata Kuliah Pendidikan Patriotisme (PSR) bukan sekadar tugas akademik. Kegiatan ini menjadi perjalanan penuh makna untuk memahami semangat perjuangan Dr. Soetomo, menelusuri nilai-nilai patriotisme dan nasionalisme, serta merefleksikan relevansinya dengan Pancasila di era modern.
Museum Dr. Soetomo, yang resmi dibuka pada 29 November 2017, menghadirkan lebih dari 300 koleksi bersejarah. Koleksi ini meliputi foto-foto, dokumen, alat kedokteran, hingga barang pribadi Dr. Soetomo, tokoh pendiri Boedi Oetomo yang menjadi pelopor pergerakan nasional. Gedung Nasional Indonesia, yang mulai dibangun pada 1930, awalnya berfungsi sebagai markas pergerakan nasional. Di tempat ini, tokoh-tokoh seperti Dr. Soetomo, R.M.H Soejono, dan R. Soendjoto merumuskan strategi kemerdekaan, tersembunyi dari pengawasan kolonial Belanda. GNI dan museum ini bukan hanya monumen sejarah, tetapi juga simbol intelektualitas, keberanian, dan cinta tanah air.

Saat memasuki paviliun selatan GNI, yang kini menjadi Museum Dr. Soetomo, kami disambut oleh suasana historis yang kental. Jendela kayu tua, lantai asli yang terjaga, dan aroma bangunan klasik membawa kami seolah kembali ke masa perjuangan. Replika ruang kerja Dr. Soetomo di lantai dua, dengan meja sederhana dan peralatan medisnya, mencerminkan kesederhanaan seorang dokter yang mendedikasikan hidupnya untuk rakyat. Makam Dr. Soetomo di sisi museum, sesuai wasiatnya untuk tetap dekat dengan masyarakat, menjadi pengingat akan kerendahan hati dan pengabdiannya. Pengalaman ini membuat kami menyadari bahwa perjuangan kemerdekaan tidak selalu berupa pertempuran bersenjata, tetapi juga pengabdian tulus kepada sesama.
Napak tilas ini memperlihatkan nilai patriotisme yang begitu kuat dalam diri Dr. Soetomo. Melalui Boedi Oetomo, yang didirikan pada 1908, beliau memperjuangkan pendidikan dan kesehatan untuk mengangkat martabat bangsa Indonesia di tengah penjajahan. GNI menjadi ruang aman bagi para pejuang untuk berdiskusi dan menyatukan visi kemerdekaan, mencerminkan semangat Persatuan Indonesia dalam sila ketiga Pancasila. Di tengah tekanan kolonial, keberanian mereka untuk tetap bergerak mengajarkan kami bahwa patriotisme adalah tindakan nyata yang lahir dari cinta mendalam pada tanah air, bahkan ketika risiko mengintai.
Nasionalisme Dr. Soetomo juga menjadi inspirasi besar. Beliau tidak hanya melawan penjajah, tetapi juga membangun kesadaran kebangsaan melalui media. Majalah Panjebar Semangat, yang diproduksi di paviliun utara GNI dan masih terbit hingga kini, menjadi alat penyebaran semangat nasionalisme.
Upaya ini selaras dengan sila kedua Pancasila, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab, yang menekankan kepedulian terhadap kesejahteraan masyarakat. Dr. Soetomo menunjukkan bahwa nasionalisme adalah tentang memajukan bangsa melalui pendidikan, kesehatan, dan pencerahan, yang menjadi fondasi bagi kemerdekaan yang sejati.
Relevansi nilai-nilai ini sangat terasa di masa kini. Di era globalisasi, tantangan bangsa telah bergeser dari penjajahan fisik menjadi ancaman terhadap identitas budaya, persatuan, dan kesejahteraan sosial. Napak tilas ini mengajarkan kami bahwa Pancasila bukan sekadar ideologi, tetapi pedoman hidup yang harus diwujudkan dalam tindakan. Sila keempat, Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan, misalnya, mendorong kami untuk menghargai musyawarah dalam kehidupan kampus, seperti saat bekerja kelompok atau berdiskusi dengan dosen. Sila kelima, Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia, menginspirasi kami untuk peduli pada isu sosial, seperti membantu komunitas kurang mampu di sekitar Surabaya melalui kegiatan pengabdian masyarakat.
Museum Dr. Soetomo juga berperan aktif dalam pendidikan sejarah melalui program tahunan seperti “Cross Musea.” Program ini mengundang pelajar untuk mempelajari sejarah pergerakan nasional melalui pameran lintas museum, menjadikan museum sebagai ruang edukasi yang hidup. Kami merasa terdorong untuk lebih sering mengunjungi situs-situs bersejarah dan mendalami perjuangan bangsa, tidak hanya melalui buku, tetapi juga pengalaman langsung. Program ini juga mengingatkan kami bahwa generasi muda memiliki tanggung jawab untuk melestarikan sejarah dan menyebarkan nilai-nilai kebangsaan kepada masyarakat luas.

Sebagai mahasiswa UNTAG Surabaya, kami merasa terpanggil untuk meneruskan semangat Dr. Soetomo dalam konteks kekinian. Meneladani beliau berarti menjadi generasi yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki jiwa patriotik dan nasionalis. Kami dapat berkontribusi melalui aksi nyata, seperti mengedukasi anak-anak di daerah tertinggal tentang pentingnya pendidikan, mengkampanyekan pelestarian budaya lokal, atau menggalang kegiatan sosial untuk membantu masyarakat sekitar. Dengan cara ini, kami tidak hanya melestarikan warisan sejarah, tetapi juga menghidupkan nilai-nilspirit Pancasila dalam kehidupan sehari-hari.
Kunjungan ini juga mengajarkan kami untuk lebih menghargai peran Surabaya sebagai kota pahlawan. Sebagai salah satu pusat pergerakan nasional, Surabaya memiliki banyak situs bersejarah yang menyimpan cerita perjuangan, seperti GNI dan Museum Dr. Soetomo. Kami merasa bangga menjadi bagian dari kota yang kaya akan sejarah ini, sekaligus termotivasi untuk menjaga dan mempromosikan warisan budaya dan sejarahnya. Melalui kegiatan napak tilas, kami belajar bahwa memahami sejarah bukan hanya tentang mengenang masa lalu, tetapi juga tentang mengambil pelajaran untuk membangun masa depan yang lebih baik.
Napak tilas di Museum Dr. Soetomo telah membuka mata kami akan besarnya pengorbanan para pahlawan demi kemerdekaan. Kegiatan ini juga menegaskan bahwa patriotisme dan nasionalisme adalah tanggung jawab bersama yang harus terus dijaga. Dengan meneladani Dr. Soetomo, kami bertekad untuk menjadi generasi yang tidak hanya bangga sebagai warga Indonesia, tetapi juga aktif berkontribusi untuk kemajuan bangsa. Kami ingin menjadi agen perubahan yang membawa dampak positif, baik di lingkungan kampus maupun masyarakat luas. Semoga semangat perjuangan Dr. Soetomo dan para pahlawan lainnya terus hidup dalam setiap langkah kami, menginspirasi generasi mendatang untuk mencintai dan membangun Indonesia yang lebih baik.
Mata Kuliah : Pendidikan Patriotisme – PSR
Dosen Pengampu : Día Puspita Sari, S.Sosio., M.Si.
Penulis : Kelompok 1 Mahasiswa UNTAG Surabaya