Madiun//www.pilarcakrawala.news| Di tengah dinamika yang mengiringi Musyawarah Nasional Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI), satu hal yang seharusnya tidak pernah hilang adalah ruh utama pencak silat itu sendiri, persaudaraan.
Konflik yang terjadi dalam tubuh Persaudaraan Setia Hati Terate (PSHT) bukan sekadar persoalan organisasi. Di dalamnya ada sejarah panjang, ada ikatan batin, ada nilai luhur yang selama ini dijaga lintas generasi.
H. Ear, mengajak semua pihak untuk berhenti sejenak dari ketegangan, dan kembali mengingat apa yang sebenarnya sedang dijaga.
“Yang kita hadapi ini bukan sekadar perbedaan pendapat atau kepentingan. Ini tentang saudara dengan saudara. Tentang warisan nilai yang tidak boleh retak hanya karena kita gagal menahan diri,” ungkapnya dengan nada penuh keprihatinan. 12 April 2026.
Ia menekankan bahwa dalam setiap proses, baik hukum maupun organisasi, ada satu hal yang tidak boleh dikorbankan, rasa saling menghormati.
“Benar, ada fakta hukum yang harus dihormati. Ada proses yang harus dijalani. Tapi jangan sampai dalam memperjuangkan itu semua, kita kehilangan hati. Jangan sampai kita menang secara hukum, tetapi kalah dalam persaudaraan,” lanjutnya.
Menurut Khoirun Nasihin, peran PB IPSI seharusnya menjadi peneduh di tengah situasi yang sensitif ini, bukan sekadar pengambil keputusan administratif.
“Di saat seperti ini, yang dibutuhkan bukan siapa yang lebih kuat, tapi siapa yang lebih mampu menahan diri. IPSI punya posisi mulia untuk merangkul, bukan memisahkan,” ujarnya.
Ia juga mengingatkan bahwa setiap keputusan di tingkat elite akan selalu berdampak hingga ke akar rumput ke para anggota, ke masyarakat, bahkan ke generasi muda yang sedang belajar tentang arti persaudaraan.
“Jangan sampai yang diwariskan kepada generasi berikutnya bukan lagi nilai luhur, tapi justru konflik yang tidak selesai. Kita punya tanggung jawab moral untuk menjaga itu,” katanya.
Lebih jauh, ia menegaskan bahwa memisahkan persoalan hukum antara hak merek yang telah berkekuatan hukum tetap dan badan hukum yang masih berproses harus dilakukan dengan kebijaksanaan, bukan dengan ego.
“Hukum itu penting, tapi kebijaksanaan jauh lebih menentukan apakah kita tetap utuh sebagai keluarga besar,” tegasnya.
Dalam suasana yang penuh dinamika ini, H. Etar mengajak semua pihak untuk kembali pada akar nilai pencak silat, rendah hati, saling menghormati, dan mengedepankan musyawarah.
“Kalau kita benar-benar memahami arti ‘persaudaraan’, maka tidak ada kemenangan yang ingin diraih dengan cara melukai yang lain. Karena pada akhirnya, yang kita jaga bukan hanya organisasi… tapi hati satu sama lain,” tutupnya.(Fen)