Meriah dan Sarat Makna, Ruwah Desa Kepatihan Semarak dengan Wayang Kulit “Wahyu Sandang Pangan” dan Campursari

87

Sidoarjo//www.pilarcakrawala.news|Tradisi Ruwah Desa (Bersih Desa) kembali digelar dengan penuh kemeriahan di Desa Kepatihan, Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo. Perayaan tahunan yang menjadi warisan budaya leluhur ini berlangsung semarak di pendopo desa melalui pagelaran wayang kulit dan hiburan campursari, serta dihadiri ratusan warga yang antusias menikmati rangkaian acara hingga larut malam.

Ruwah Desa tidak sekadar menjadi agenda seremonial, tetapi juga merupakan wujud rasa syukur masyarakat atas limpahan rezeki sekaligus doa bersama demi keselamatan dan kemajuan desa. Momentum ini dimanfaatkan warga sebagai ajang mempererat silaturahmi dan memperkuat rasa kebersamaan.

Sejak sore hari, suasana pendopo desa sudah dipenuhi warga dari berbagai kalangan, mulai anak-anak hingga orang tua. Acara dibuka dengan penampilan Campursari Abyor Budaya yang menyuguhkan hiburan bernuansa tradisional. Perpaduan alat musik khas Jawa dengan irama modern menciptakan suasana hangat dan penuh kegembiraan. Warga tampak menikmati setiap lantunan lagu, bahkan beberapa ikut bernyanyi bersama.

Memasuki malam hari, puncak acara ditandai dengan pagelaran wayang kulit dengan lakon “Wahyu Sandang Pangan” yang dibawakan oleh dalang Ki Punawan Taruna Aji. Dengan gaya penceritaan yang komunikatif dan penuh filosofi, sang dalang berhasil memikat perhatian penonton. Lakon tersebut mengandung pesan moral tentang pentingnya kerja keras, persatuan, dan harapan akan kesejahteraan masyarakat.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Kepatihan, Rigor Putratama, menyampaikan bahwa penyelenggaraan pagelaran budaya ini merupakan bentuk nyata pemanfaatan dana bagi hasil pajak yang dikembalikan untuk kepentingan masyarakat. Ia menegaskan bahwa kesadaran warga dalam membayar pajak sangat berpengaruh terhadap kemajuan pembangunan desa.

Menurutnya, kegiatan budaya seperti Ruwah Desa menjadi bukti bahwa hasil pembangunan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat, tidak hanya dalam bentuk infrastruktur tetapi juga dalam pelestarian budaya.

Selain itu, Kepala Desa juga mensosialisasikan program Pendaftaran Tanah Sistematis Lengkap (PTSL). Ia menjelaskan bahwa program tersebut memberikan kesempatan bagi warga untuk memperoleh kepastian hukum atas kepemilikan tanah, selama lahan yang diajukan tidak dalam sengketa.

Sementara itu, Camat Tulangan, Moch. Andi Sulistiono, mengapresiasi kekompakan masyarakat Desa Kepatihan dalam menjaga dan melestarikan tradisi budaya. Ia menilai Ruwah Desa merupakan cerminan kuatnya nilai gotong royong dan identitas budaya lokal yang harus terus dipertahankan.

Menurutnya, pelestarian budaya harus berjalan seiring dengan pembangunan daerah agar masyarakat tetap memiliki akar tradisi di tengah arus modernisasi.

Di sela-sela acara, awak media Alifcakrawala mewawancarai Sekretaris Desa Kepatihan, Novianto, yang menegaskan bahwa Ruwah Desa adalah agenda tahunan yang selalu dinantikan warga. Ia menyebut kegiatan ini sebagai wadah untuk mempererat hubungan sosial sekaligus menjaga kelestarian budaya Jawa.

Antusiasme warga juga terlihat dari tanggapan Siti, salah satu warga Desa Kepatihan, yang mengaku sangat senang dengan terselenggaranya acara tersebut. Menurutnya, pagelaran wayang kulit dan campursari menjadi hiburan rakyat yang mampu menyatukan masyarakat.

 

Pelaksanaan Ruwah Desa Kepatihan berlangsung aman, tertib, dan penuh kekhidmatan. Hadir dalam kegiatan tersebut Camat Tulangan Moch. Andi Sulistiono, Danramil Tulangan Kapten Arh Aan Chunaidi, Kapolsek Tulangan yang diwakili Aiptu Ujang Purwanto, Babinsa Desa Kepatihan, Bhabinkamtibmas Desa Kepatihan, serta perangkat desa.

Melalui kegiatan ini, Pemerintah Desa Kepatihan berharap tradisi Ruwah Desa dapat terus dilestarikan sebagai warisan budaya yang memperkuat persatuan masyarakat, menumbuhkan rasa bangga terhadap kearifan lokal, serta mendorong semangat bersama dalam membangun desa yang lebih maju, harmonis, dan berbudaya.(Edy.S)

Get real time updates directly on you device, subscribe now.