Tradisi Ruwah Desa Kemantren: Merajut Kebersamaan dalam Budaya dan Doa

380

SIDOARJO~www.pilarcakrawala.news|Tradisi Ruwah Desa kembali digelar oleh masyarakat Desa Kemantren, Kecamatan Tulangan, Kabupaten Sidoarjo, sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas berkah dan kesejahteraan yang dilimpahkan. Acara tahunan ini berlangsung pada Jumat, (21/02/ 2025), di Pendopo Balai Desa Kemantren dan dihadiri oleh berbagai elemen masyarakat serta jajaran pemerintahan desa dan kecamatan. Dengan kemeriahan yang berpadu dengan nuansa spiritual, acara ini menjadi wujud nyata pelestarian budaya serta penguatan rasa kebersamaan di tengah masyarakat.

Ruwah Desa merupakan tradisi yang telah diwariskan secara turun-temurun oleh masyarakat Jawa. Dalam tradisi ini, warga desa menggelar berbagai ritual sebagai bentuk penghormatan kepada para leluhur yang telah merintis dan membangun desa. Selain itu, tradisi ini juga menjadi ajang doa bersama demi kesejahteraan dan kemakmuran desa serta seluruh warganya. Bentuk pelaksanaan Ruwah Desa bisa beragam, mulai dari sedekah bumi, doa bersama, hingga pagelaran seni budaya, sebagaimana yang dilakukan oleh masyarakat Desa Kemantren.

Dalam perayaan Ruwah Desa tahun ini, Pemerintah Desa Kemantren menghadirkan pagelaran wayang kulit sebagai acara utama. Pementasan yang dibawakan oleh dalang kondang Ki Kuswoyo SKN ini mengangkat lakon Wahyu Mujizat Darmobekti Suci Kang Sejati, sebuah kisah yang sarat akan pesan moral dan nilai-nilai kehidupan. Lakon ini menyampaikan pesan penting tentang pembangunan desa yang berkelanjutan, pentingnya bakti anak kepada orang tua, serta nilai-nilai luhur seperti kejujuran, disiplin, dan kepatuhan terhadap aturan negara, termasuk kesadaran dalam membayar pajak demi kemajuan desa.

Kehadiran pagelaran wayang kulit ini tidak hanya menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga sebagai media edukasi yang efektif dalam menanamkan nilai-nilai kehidupan dan kebangsaan kepada generasi muda. Pertunjukan yang berlangsung hingga dini hari ini mampu menyedot perhatian ratusan warga yang antusias menyaksikan jalannya cerita yang penuh dengan nasihat dan petuah bijak.

Sebelum pagelaran wayang kulit dimulai, acara diawali dengan prosesi doa bersama yang dipimpin oleh tokoh agama setempat. Doa tersebut ditujukan kepada para leluhur yang dahulu membuka dan membangun Desa Kemantren serta kepada para ulama yang telah berjasa dalam menyebarkan nilai-nilai kebaikan. Usai doa bersama, dilakukan pemotongan tumpeng sebagai simbol rasa syukur dan harapan agar Desa Kemantren senantiasa diberi keberkahan, kesejahteraan, dan kedamaian.

Acara Ruwah Desa ini turut dihadiri oleh berbagai tokoh penting, antara lain Kepala Desa Kemantren H. Kuswandi, SH, MM, beserta jajaran perangkat desa, Camat Tulangan Asmara Hadi, S.STP, MAP, Kapolsek Tulangan AKP Abdul Collil, SH, Danramil Tulangan Kapten Arh Aan Chunaidi, Babinsa Desa Kemantren, Bhabinkamtibmas Desa Kemantren, serta tokoh agama, tokoh masyarakat, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD). Kehadiran mereka menunjukkan dukungan penuh terhadap pelestarian budaya serta partisipasi aktif dalam membangun kebersamaan dengan masyarakat.

Dalam sambutannya, Kepala Desa Kemantren H. Kuswandi, SH, MM, mengungkapkan bahwa pelestarian tradisi Ruwah Desa merupakan tanggung jawab bersama agar tidak tergerus oleh modernisasi. Ia menegaskan bahwa kebersamaan dan gotong royong masyarakat menjadi kunci utama dalam membangun desa yang lebih maju dan sejahtera.

Sementara itu, Camat Tulangan Asmara Hadi, S.STP, MAP, dalam sambutannya menyampaikan apresiasi kepada seluruh masyarakat Desa Kemantren atas terselenggaranya acara ini. Ia berharap agar tradisi ini tidak hanya menjadi ajang pelestarian budaya, tetapi juga mampu mempererat hubungan sosial dan meningkatkan kesadaran akan pentingnya peran serta masyarakat dalam pembangunan desa.

Tradisi Ruwah Desa bukan sekadar seremoni tahunan, tetapi juga menjadi sarana untuk memperkuat jati diri masyarakat Desa Kemantren dalam menjunjung tinggi nilai-nilai budaya, kebersamaan, serta kepatuhan dalam menjalankan kewajiban sebagai warga negara.

Dengan berlangsungnya acara ini, harapannya generasi muda dapat terus melestarikan adat dan budaya yang telah diwariskan oleh para leluhur. Pagelaran wayang kulit yang penuh makna serta doa bersama yang khidmat menjadi bukti nyata bahwa budaya dan spiritualitas dapat berjalan beriringan dalam membangun masyarakat yang harmonis dan sejahtera. Tradisi ini tidak hanya menjadi bagian dari identitas desa, tetapi juga warisan yang harus terus dijaga untuk generasi mendatang.( ED s )

Get real time updates directly on you device, subscribe now.